Apakah salah GAJAH MADA ?

30/09/2009
Gajah Mada

Gajah Mada

Menurut Pararaton, Gajah Mada memulai karirnya di Majapahit sebagai komandan pasukan khusus Bhayangkara. Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada tahun 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya takluk. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi sebagai Patih Majapahit.

Pada waktu pengangkatannya, ia mengucapkan Sumpah Palapa, yang berisi bahwa ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi) jika telah berhasil menaklukkan Nusantara. Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton berikut:

Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa

Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Peta Kekuasaan Majapahit

Peta Kekuasaan Majapahit

Menurut Negarakertagama kitab yang disusun oleh Mpu Prapanca, pada masa Gajah Mada menjabat Mahapatih wilayah kekuasaan Majapahit meliputi wilayah Indonesia yang ada sekarang, Singapura, Malaysia, Brunai dan sebagian wilayah selatan Filipina.

Malaysia pernah menjadi negara taklukan Majapahit oleh Gajah Mada. Bisa jadi budaya Majapahit (baca: budaya Jawa) secara tidak langsung pernah dibawa oleh Gajah Mada ke Malaysia. Hal ini memungkinkan, kebudayaan yang waktu itu bisa lestari dan bekembang hingga sekarang. Dan Malaysia mengklaim bahwa budaya itu adalah budaya miliknya.

Salahkan Gajah Mada ????

Sumber : Wikipedia | http://yanrizal.com


Gamelan Malaysia Mirip Milik Indonesia

30/09/2009
Gamelan oh gamelan

Gamelan oh gamelan

VIVAnews – Pemerintah Malaysia mulai mematenkan berbagai warisan kebangsaan dari mulai makanan, kesenian, hingga kebudayaan. Selain sudah mematenkan ketupat dan nasi tumpeng, Malaysia juga sudah mendaftarkan Wayang Kulit dan Gamelan. Berdasarkan penelusuran VIVAnews di situs resmi pemerintah Malaysia warisan.gov.my, warisan kebangsaan Malaysia yang sudah dimasukkan dalam Statistik Daftar Warisan dan Warisan Kebangsaan terbagi menjadi tiga kategori. Namun demikian, Gamelan yang dipatenkan milik Malaysia itu, memiliki kemiripan dengan gamelan yang berasal dari Jawa. Alat-alatnya terdiri dari Gong Agong, Gong Sawokan, Gendang Ibu, Gendang Anak, Saron. Gamelan Malaysia bila dilihat dari sejarahnya, kali pertama diperkenalkan di Pahang, saat pemerintahan Sultan Ahmad Muaddzam Shah. Permaisurinya, Fatimah dan istri kedua Sultan, Che Bedah ikut berperan menyebarkan gamelan. Sekitar tahun 1913, gamelan menyebar ke Terengganu,dibawa oleh putri Sultan Pahang, Mariam yang menikah dengan Sultan Terengganu saat itu, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Sultan Sulaiman bahkan menciptakan berbagai lagu dan tarian, termasuk lambang sari, geliung, ketam renjong, togok, gagak seteru, lancang kuning dan sebagainya. Berikut daftar kesenian dan budaya Malaysia yang didaftarkan pada 23 Februari 2009:

  1. Boria
  2. Tarian Zapin
  3. Gamelan
  4. Tarian Bhangra – Kaum Sikh
  5. Tarian Bharata Natyam – Kaum India
  6. Gendang Dua Puluh Empat Perayaan (Gendang Cina)
  7. Dikir Barat
  8. Pantun Melayu
  9. Syair
  10. Tulisan Jawi
  11. Wau Malaysia
  12. Congkak
  13. Gasing
  14. Wayang Kulit, didaftarkan pada 26 Februari 2009

HAMBUKA LAMPAHING TATACARA

18/08/2009

Kula Nuwun

Sih rahmat saha tentrem rahayu saking Gusti Hingkang Maha Asih mugi nunggil ing para tamu sekaliyan.

Nuju ari pinilih dinten piniji ana titahing Gusti ingkang sinung panjenenganipun Bapa ………………… arsa netepi jejering asepuh amiwaha putri ingkang asesilih Rara …….. sumedya kadhaupaken jejaka tumaruna ingkang asesilih Bagus ……. putranipun Bapa …..

Dupi wus dumugi wahyaning mangsakala saksana ingkang hamengku jati Kyai Saraya Jati kinen ngupadi dumununging sekar manca warna kayu klepu dewadaru kinarya lelangening sri panganten.

Tanggaping sasmita gita-gita ingkang sinaraya sakadang lumarap wonten ngarsaning ingkang handuta. Samana para ingkang hanamung kridha samya sawega ing dhiri, siyaga ing gati anut jejibahan sowang-sowang.



Wayang Kulit dalam bahasa inggris ???

18/08/2009

Surfing di youtube.com tiba-tiba nemuin Indonesian Puppet Show Now in English. Wah, konflik batin muncul di hati. Antara bangga dan kuatir.

Bangga : karena wayang kulit sudah merambah dunia dengan menggunakan bahasa asing (baca: inggris) sehingga cerita wayang bisa dipahami oleh orang diluar bangsa Indonesia. Suatu pertanda wayang akan dapat diterima semua kalangan pencinta seni dan budaya di seluruh dunia.

Kuatir : wayang kulit mulai kehilangan jati dirinya sebagai bagian dari budaya jawa pada khususnya. Pakem bahasa pedalangan semakin kabur dengan menggunakan bahasa inggris. Mengapa dan bagaimana ? Apa contohnya ?

Pengetrapan unggah-ungguh dan subasita pakeliran atau dalam suatu adegan wayang, dimana seorang raja berdialog dengan para bawahannya, letak penggunaan bahasa terasa jelas disini. Jika menggunakan bahasa jawa, kata “kamu” dapat menggunakan “Paduka, Panjenengan, Sira, kowe, sliramu” tergantung dimana peletakan penggunaannya ketika raja berbicara dengan bawahan atau sebaliknya.

Tetapi dalam bahasa Inggris, sepengetahuan saya, “kamu” hanya bisa diganti “you”. Raja akan mengatakan “kamu” pada bawahan dan bawahan akan memanggil raja “kamu” ????

Sebuah unggah-ungguh yang tiba-tiba harus ditinggalkan. Sebuah tradisi adat jawa yang kental yang pakem digunakan untuk hamicara sesuai dengan trah yang selama ini ada. Mengingat cerita pewayangan tidak terlepas dari cerita kerajaan dan adat budaya jawa.

Ah, mungkin itu cuma kekuatiranku saja.


Wayang

24/07/2009

Sumber : ki-demang.com

04_kayon_blumbangan_solo

Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti “bayangan”.
Jika ditinjau dari arti filsafatnya “wayang” dapat diartikan sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain.
Sebagai alat untuk memperagakan suatu ceritera wayang.
Dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang waranggana sebagai vokalisnya.
Di samping itu, seorang dalang kadang kadang juga mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas untuk mengatur wayang sebelum permainan dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh wayang yang akan dibutuhkan oleh dalang dalam menyajikan ceritera.
Fungsi dalang di sini adalah mengatur jalannya pertunjukan secara keseluruhan.
Dialah yang memimpin semua crewnya untuk luluh dalam alur ceritera yang disajikan.
Bahkan sampai pada adegan yang kecil-kecilpun harus ada kekompakan di antara semua crew kesenian tersebut.
Dengan demikian, di samping dituntut untuk bisa menghayati masing-masing karakter dari tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan, seorang dalang juga harus mengerti tentang gending (lagu).
Desain lantai yang dipergunakan dalam permainan wayang berupa garis lurus, dan dalam memainkan wayang, seorang dalang dibatasi oleh alas yang dipakai untuk menancapkan wayang.
Dalam pertunjukan wayang dikenal set kanan dan set kiri.
Set kanan merupakan kumpulan tokoh tokoh atau satria-satria pembela kebenaran dan kebajikan, sedangkan set kiri adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka.
Walaupun demikian ketentuan ini tidak mutlak.
Untuk memperagakan berbagai setting/dekorasi dan pergantian adegan biasanya dipakai simbol berupa gunungan.
Pertunjukan wayang bisa dilakukan pada siang maupun malam hari, atau sehari semalam.
Lama pertunjukan untuk satu lakon adalah sekitar 7 sampai 8 jam.
Instrumen musik yang digunakan dalam mengiringi pertunjukan wayang secara lengkap adalah gamelan Jawa pelog dan slendro, tetapi bila tidak lengkap yang biasa digunakan adalah dan jenis slendro saja.
Vokalis putri dalam iringan musik yang disebut waranggono bisa satu orang atau lebih.
Di samping itu, masih ada vokalis pria yang disebut penggerong atau wirasuara, yang jumlahnya 4 sampai 6 orang dan bertugas mengiringi waranggana dengan suara “koor”.
Vokalis pria ini bisa disediakan khusus atau dirangkap oleh penabuh gamelan, sehingga penabuh gamelan adalah juga penggerong.
Dalam menentukan lakon yang akan disajikan seorang dalang tidak bisa begitu saja memilih sesuai dengan kehendaknya.
Ia dibatasi oleh beberapa faktor.
Diantaranya adalah:
(1) jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peragaan;
(2) kepercayaan masyarakat sekitarnya;
(3) keperluan diadakannya pertunjukan tersebut.
Jenis wayang akan mempengaruhi lakon yang bisa disajikan lewat wayang-wayang tersebut.
Seperangkat wayang kulit misalnya hanya dapat dipakai untuk memainkan ceritera-ceritera dari Mahabarata atau Ramayana.
Wayang kulit tidak bisa di pakai untuk menampilkan babad Menak.
Sebaliknya perangkat wayang golek tidak dapat digunakan untuk melakonkan Mahabarata, ini dikarenakan tokoh tokoh yang ada dalam wayang-wayang tersebut memang sudah dibuat untuk pementasan lakon-lakon (ceritera-ceritera) tertentu.
Dalam suatu masyarakat, terutama masyarakat pedesaan, yang masih patuh pada tradisi dan adat istiadat peninggalan para leluhurnya, banyak kita jumpai pantangan-pantangan atas suatu lakon tertentu untuk pertunjukan wayang.
Sebagian masyarakat misalnya beranggapan bahwa lakon Bharatayuda tabu untuk dipentaskan dalam upacara perayaan perkawinan.
Apabila pantangan ini dilanggar, orang yakin bahwa keluarga tersebut akan mengalami kesusahan.
Entah akan ada anggota keluarga yang meninggal, akan terjadi perceraian dalam keluarga tersebut, atau malapetaka lainnya.
Di daerah-daerah pedesaan juga masih banyak kita jumpai upacara-upacara adat yang diselenggarakan dengan pertunjukan wayang.
Untuk suatu upacara tertentu, lakon wayang yang dipentaskan juga tertentu.
Pada upacara bersih desa, yaitu selamatan sesudah panen, lakon yang harus dipertunjukkan adalah “Kondure Dewi Sri” (Pulangnya Dewi Sri), sedangkan untuk upacara ngruwat lakonnya adalah Batara Kala.
Selain batasan-batasan ini lakon wayang sering kali juga ditentukan oleh permintaan penanggap2 atau atas kesepakatan antara pihak dalang dan penanggap wayang.
Mengenai asal mula timbulnya wayang di Indonesia pendapat dari beberapa ahli dapat digunakan sebagai pedoman untuk memaparkan hal ini.
Salah satu pendapat yang didukung oleh data yang kuat disampaikan oleh Sri Mulyono. Mengenai timbulnya pertunjukan wayang ini Mulyono berpendapat bahwa pertunjukan wayang kulit dalam bentuknya yang asli, yaitu dengan segala sarana pentas / peralatannya yang serba sederhana, yang pada garis besarnya sama dengan yang sekarang kita lihat, yaitu dengan menggunakan wayang dari kulit diukir (ditatah), kelir, blencong, kepyak, kotak dan lain sebagainya, sudah dapat dipastikan berasal dan merupakan hasil karya orang Indonesia asli di Jawa, sedangkan timbulnya jauh sebelum kebudayaan Hindu datang.
Pertunjukan wayang kulit ini pada dasarnya merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk menuju “Hyang”, dilakukan di malam hari oleh seorang medium (syaman) atau dikerjakan sendiri oleh kepala keluarga dengan mengambil ceritera-ceritera dari leluhur atau nenek moyangnya.
Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil dan berhubungan dengan roh nenek moyang guna memohon pertolongan dan restunya apabila keluarga itu akan memulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas.
Upacara semacam ini diperkirakan timbul pada jaman Neohithik Indonesia atau pada ± tahun 1500 SM.
Dalam perkembangannya kemudian upacara ini dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian, atau menjadikannya suatu pekerjaan tetap, yang disebut dalang.
Dalam kurun waktu yang cukup lama pertunjukan wayang kemudian terus berkembang setahap demi setahap namun tetap mempertahankan fungsi intinya, yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan sistim kepercayaan dan pendidikan.
Berkenaan dengan perkembangan kesenian wayang ini sebagai ibu kota kerajaan Mataram Baru, Yogyakarta telah memberikan tempat hidup yang subur bagi kesenian wayang, sebagaimana tercermin dan didirikannya sekolah dalang Habiranda pada tahun 1925 di kota ini.
Kini para dalang lulusan sekolah Habiranda banyak tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mengenai jenis wayang yang dikenal oleh masyarakat Jawa, ternyata ada beberapa jenis yaitu: Wayang Kulit/ Purwa; Wayang Klithik; Wayang Golek dan Wayang Orang.


Perang Kembang

23/07/2009

Sajian menarik dari Bayu Pamungkas.


SURYATMAJA

30/09/2008
Suryatmaja

Suryatmaja

Karna adalah putra Dewi Kunti atas perkawinannya dengan Batara Surya. Oleh karena itu Karna disebut juga Suryaputra atau Suryatmaja. Disebut karna karena ia dilahirkan oleh Dewi Kunti lewat telinga. Begitu ia lahir lalu dibuang, kemudian dipelihara dan diambil anak oleh Prabu Radia raja negeri Petapralaya. Setelah dewasa Karna berkenalan dengan putra raja Mandaraka bernama Dewi Surtikanti. Hal itu diketahui oleh Raden Permadi yang menyebabkan terjadinya perang antara Karna dengan Raden Permadi. Pelipis Karna terkena senjata sehingga terluka. Ketika Karna akan dibunuh Permadi datanglah batara Narada dari Kahyangan memisah mereka. Batara Narada menerangkan bahwa Karna adalah saudara sekandung Permadi yang tua, maka seharusnya Permadi justru membantu Karna agar dapat kawin dengan Dewi Surtikanti.

Karna setelah dewasa mengabdikan diri di kerajaan Astina. Sebagai imbalan jasanya Karna diangkat sebagai Adipati di Awangga. Untuk menunjukkan kesetiaannya kepada negeri Astina dalam perang baratayuda, Adipati Karna tetap membela Astina walaupun ia mati ditangan saudaranya sendiri yaitu Raden Arjuna atau Permadi.


RESI DURNA

30/09/2008
Resi Durna

Resi Durna

Resi Durna ketika masih muda bernama Bambang Kumbayana. Bambang Kumbayana beroman bagus dan sakti. Ia berasal dari negeri Atasangin. Bambang Kumbayana mempunyai saudara angkat bernama Bambang Sucitra yang telah meninggalkan negerinya, menyeberangi lautan pergi ke tanah Jawa. Bambang Kumbayana kemudian menyusul, tetapi setibanya di tepi samudera ia sangat sedih karena tidak ada perahu yang menyeberangkannya. Bambang Kumbayana bersabda : “Barang siapa yang dapay menyeberangkan saya ke tanah jawa, jika laki-laki kujadikan saudaraku sendiri, jika perempuan akan kukawini.”

Begitu selesai Bambang Kumbayana menyuarakan kata-kata saktinya itu datanglah seekor kuda betina bersayap. Menurut Bambang Kumbayana kuda itulah yang akan menyeberangkannya. Ditunggangilah kuda itu sampai ke tanah Jawa. Setibanya di tanah Jawa kuda melahirkan seorang anak laki-laki bernama Bambang Aswatama. Kuda berubah menjadi seorang bidadari cantik bernama Dewi Wilutama. Ia terbang ke angkasa, kembali ke kahyangan.

Bambang Kumbayana sampailah di salah satu negeri bernama Cempalareja (Cempala Radya) yang diperintah oleh seorang raja bernama Prabu Drupada. Raja itu ternyata adalah Bambang Sucitra saudaranya, maka Bambang Kumbayana bersikap bebas dan seenaknya terhadap raja. Raden Gandamana, ipar Prabu Drupada, sangat marah melihat sikap Bambang Kumbayana yang dianggapnya kurang menghargai raja. Bambang Kumbayana lalu dianiaya oleh Rade

n Gandamana sampai cacat badannya. Prabu Drupa terlambat mendengar kejadian tersebut. Kemudian Bambang Kumbayana dirawat oleh Prabu Drupada, ia disuruh tinggal di Sokalima dengan nama Durna. Akhirnya ia mengabdi di negeri Astina, dan diangkat oleh Prabu Duryudana menjadi pendeta utama, maha guru keluarga Pandawa dan Korawa.


BEGAWAN SUDAMALA ( Durga ruwat )

28/08/2008

Alkisah, Dewi Uma yang juga adalah istri dari Betara Guru karena suatu kesalahan, ia dihukum turun ke dunia dan wajah catiknya menjadi jelek seperti raksasa dan bernama Betari Durga.

Betari Durga mempunyai kerajaan di Pasetran Gondomayit. Ia berambisi untuk mengambil kembali kecantikannya. Caranya adalah dengan meminta ragil Pandawa yaitu Sadewa mengubahnya kembali menjadi cantik seperti sedia kala.

Betari Durga mengutus sang patih yaitu Jin Kalika menuju Amarta untuk meminta Sadewa.

Wrekudara marah dan menghajar bala pasukan Pasetran Gondomayit. Demikian juga para Pandawa. Pertempuran seru terjadi. Karena suatu tipu muslihat Jin Kalika, akhirnya Sadewa berhasil diculik.

Melihat gelagat tersebut, Kresna menyuruh Arjuna pergi ke Karang Kadhempel untuk menjumpai Semar guna meminta tolong merebut kembali Sadewa.

Semar yang sudah tahu, siapa itu Betari Durga, segera ia menghubungi Batara Narada agar menuju Pasetran Gondomayit.

Sementara di Pasetran Gondomayit, Betari Durga menyuruh Sadewa segera merubah wajahnya kembali menjadi Dewi Uma. Betara Narada yang melihat semua itu, ia masuh keraga Sadewa dan mengubah wajah Betari Durga menjadi cantik kembali.

Alangkah girangnya Betari Durga yang telah berubah menjadi Dewi Uma cantik kembali. Ia memberi julukan kepada Sadewa sebagai Begawan Sudamala.

Narada segera membawa Sadewa ke Amarta dan berjumpa kembali dengan para Pandawa.


RAHASIA SERAT SASTRAJENDRAHAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU (Bagian Kedua-habis)

28/08/2008

Oleh : Sudarmawan Juwono, Koordinator wayangkom.com

Nun jauh, negeri Ngalengka yang separuh rakyatnya terdiri manusia dan separuh lainnya berwujud raksasa. Negeri ini dipimpin Prabu Sumali yang berwujud raksasa dibantu iparnya seorang raksasa yang bernama Jambumangli. Sang Prabu yang beranjak sepuh, bermuram durja karena belum mendapatkan calon pendamping bagi anaknya, Dewi Sukesi. Sang Dewi hanya mau menikah dengan orang yang mampu menguraikan teka teki kehidupan yang diajukan kepada siapa saja yang mau melamarnya. Sebelumnya harus mampu mengalahkan pamannya yaitu Jambumangli. Beribu ribu raja, wiku dan satria menuju Ngalengka untuk mengadu nasib melamar sang jelita namun mereka pulang tanpa hasil. Tidak satupun mampu menjawab pertanyaan sang dewi. Berita inipun sampailah ke negeri Lokapala, sang Prabu Danaraja sedang masgul hatinya karena hingga kini belum menemukan pendamping hati. Hingga akhirnya sang Ayahanda, Begawan Wisrawa berkenan menjadi jago untuk memenuhi tantangan puteri Ngalengka.
Pertemuan Dua Anak Manusia
Berangkatlah Begawan Wisrawa ke Ngalengka, hingga kemudian bertemu dengan dewi Suksesi. Senapati Jambumangli bukan lawan sebanding Begawan Wisrawa, dalam beberapa waktu raksasa yang menjadi jago Ngalengka dapat dikalahkan. Tapi hal ini tidak berarti kemenanmgan berada di tangan. Kemudian tibalah sang Begawan harus menjawab pertanyaan sang Dewi. Dengan mudah sang Begawan menjawab pertanyaan demi pertanyaan hingga akhirnya, sampailah sang dewi menanyakan rahasia Serat Sastrajendra. Sang Begawan pada mulanya tidak bersedia karena ilmu ini harus dengan laku tanpa ¡§ perbuatan ¡§ sia sialah pemahaman yang ada. Namun sang Dewi tetap bersikeras untuk mempelajari ilmu tersebut, toh nantinya akan menjadi menantunya.
Luluh hati sang Begawan, beliau mensyaratkan bahwa ilmu ini harus dijiwai dengan niat luhur. Keduanya kemudian menjadi guru dan murid, antara yangf mengajar dan yang diajar. Hari demi hari berlalu keduanya saling berinteraksi memahamkan hakikat ilmu. Sementara di kayangan, para dewata melihat peristiwa di mayapada. ¡§ Hee, para dewata, bukankah Wisrawa sudah pernah diberitahu untuk tidak mengajarkan ilmu tersebut pada sembarang orang ¡§.
Para dewata melaporkan hal tersebut kepada sang Betara Guru. ¡§ Bila apa yang dilakukan Wisrawa, bisa nanti kayangan akan terbalik, manusia akan menguasai kita, karena telah sempurna ilmunya, sedangkan kita belum sempat dan mampu mempelajarinya ¡§.
Sang Betara Guru merenungkan kebenaran peringatan para dewata tersebut. ¡§ tidak cukup untuk mempelajari ilmu tanpa laku, Serat Sastrajendra dipagari sifat sifat kemanusiaan, kalau mampu mengatasi sifat sifat kemanusiaan baru dapat mencapai derajat para dewa. ¡§ Tidak lama sang Betara menitahkan untuk memanggil Dewi Uma.untuk bersama menguji ketangguhan sang Begawan dan muridnya.
Hingga sesuatu ketika, sang Dewi merasakan bahwa pria yang dihadapannya adalah calon pendamping yang ditunggu tunggu. Biar beda usia namun cinta telah merasuk dalam jiwa sang Dewi hingga kemudian terjadi peristiwa yang biasa terjadi layaknya pertemuan pria dengan wanita. Keduanya bersatu dalam lautan asmara dimabukkan rasa sejiwa melupakan hakikat ilmu, guru, murid dan adab susila. Hamillah sang Dewi dari hasil perbuatan asmara dengan sang Begawan. Mengetahui Dewi Sukesi hamil, murkalah sang Prabu Sumali namun tiada daya. Takdir telah terjadi, tidak dapat dirubah maka jadilah sang Prabu menerima menantu yang tidak jauh berbeda usianya.
Tergelincir Dalam Kesesatan
Musibah pertama, terjadi ketika sang senapati Jambumangli yang malu akan kejadian tersebut mengamuk menantang sang Begawan. Raksasa jambumangli tidak rela tahta Ngalengka harus diteruskan oleh keturunan sang Begawan dengan cara yang nista. Bukan raksasa dimuliakan atau diruwat menjadi manusia. Namun Senapati Jambumangli bukan tandingan, akhirnya tewas ditangan Wisrawa. Sebelum meninggal, sang senapati sempat berujar bahwa besok anaknya akan ada yang mengalami nasib sepertinya ditewaskan seorang kesatria.
Musibah kedua, Prabu Danaraja menggelar pasukan ke Ngalengka untuk menghukum perbuatan nista ayahnya. Perang besar terjadi, empat puluh hari empat puluh malam berlangsung sebelum keduanya berhadapan. Keduanya berurai air mata, harus bertarung menegakkan harga diri masing masing. Namun kemudian Betara Narada turun melerai dan menasehati sang Danaraja. Kelak Danaraja yang tidak dapat menahan diri, harus menerima akibatnya ketika Dasamuka saudara tirinya menyerang Lokapala.
Musibah ketiga, sang Dewi Sukesi melahirkan darah segunung keluar dari rahimnya kemudian dinamakan Rahwana (darah segunung). Menyertai kelahiran pertama maka keluarlah wujud kuku yang menjadi raksasi yang dikenal dengan nama Sarpakenaka. Sarpakenaka adalah lambang wanita yang tidak puas dan berjiwa angkara, mampu berubah wujud menjadi wanita rupawan tapi sebenarnya raksesi yang bertaring. Kedua pasangan ini terus bermuram durja menghadapi musibah yang tiada henti, sehingga setiap hari keduanya melakukan tapa brata dengan menebus kesalahan. Kemudian sang Dewi hamil kembali melahirkan raksasa kembali. Sekalipun masih berwujud raksasa namun berbudi luhur yaitu Kumbakarna.
Akhir Yang Tercerahkan
Musibah demi musibah terus berlalu, keduanya tidak putus putus memanjatkan puaj dan puji ke hadlirat Tuhan yang Maha Kuasa. Kesabaran dan ketulusan telah menjiwa dalam hati kedua insan ini. Serat Sastrajendra sedikit demi sedikit mulai terkuak dalam hati hati yang telah disinari kebenaran ilahi. Hingga kemudian sang Dewi melahirkan terkahir kalinya bayi berwujud manusia yang kemudian diberi nama Gunawan Wibisana. Satria inilah yang akhirnya mampu menegakkan kebenaran di bumi Ngalengka sekalipun harus disingkirkan oleh saudaranya sendiri, dicela sebagai penghianat negeri, tetapi sesungguhnya sang Gunawan Wibisana yang sesungguhnya yang menyelamatkan negeri Ngalengka. Gunawan Wibisana menjadi simbol kebenaran mutiara yang tersimpan dalam Lumpur namun tetap bersinar kemuliaannya. Tanda kebenaran yang tidak larut dalam lautan keangkaramurkaan serta mampu mengalahkan keragu raguan seprti terjadi pada Kumbakarna. Dalam cerita pewayangan, Kumbakarna dianggap tidak bisa langsung masuk suargaloka karena dianggap ragu ragu membela kebenaran.
Melalui Gunawan Wibisana, bumi Ngalengka tersinari cahaya ilahi yang dibawa Ramawijaya dengan balatentara jelatanya yaitu pasukan wanara (kera). Peperangan dalam Ramayana bukan perebutan wanita berwujud cinta namun pertempuran demi pertempuran menegakkan kesetiaan pada kebenaran yang sejati.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.